Latest Post

Inilah Tampang Datsun Crossover


Datsun sepertinya mengambil ancang-ancang untuk bangkit kembali setelah pada ajang Auto Expo 2014 di New Delhi memperkenalkan konsep mobil terbarunya, Redi-GO Concept.

Datsun Redi-GO Concept menggunakan velg alloy 15 inci, dan untuk membuat nyaman hingga lima penumpang mobil ini memiliki panjang wheelbase sebesar 2.350 mm. Datsun juga telah memberikan warna eksterior yang cukup menarik untuk konsep mobil ini yaitu lime green.

Konsep mobil ini akan datang sebagai small crossover. Kabarnya akan mulai dijual untuk pertama kalinya di negeri Hindustan tersebut serta negara-negara berkembang lainnya seperti Brazil, Afrika Selatan, Rusia, dan juga Indonesia.

Walaupun baru sebatas mobil konsep, namun Datsun sepertinya siap untuk mencetak massal mobil ini.
Kita tunggu saja bagaimana kemunculan dari Datsun Crossover yang kabarnya akan menjadi pesaing dari Nissan Juke yang sudah lama ‘mengaspal’ di Indonesia.

 

Perbedaan Sistem Pendidikan Indonesia dengan Finlandia

Sistem Pendidikan di Indonesia yang kerap berubah kurikulumnya sejalan dengan perubahan pemerintahan sering membuat bingung kita semua, terutama siswa. Ingin dibawa kemanakah sebenarnya pendidikan di negeri kita?

Mari kita coba bandingkan dengan Finlandia yang telah mereformasi sistem pendidikan mereka. Dalam penilaian international yang dilakukan Organization for Economic Cooperation and Developement, Finlandia berada di urutan negara yang terbaik di dunia dalam mengelola pendidikannya.

1. Indonesia: Anak-anak mulai dikenalkan dengan pendidikan sejak usia dini. Ada playgroup, TK A, TK B, bahkan sebelum umur 3 tahun pun sudah ada yang ‘menyekolahkan’ anaknya, meskipun hanya satu jam dengan tujuan anaknya dapat bersosialisasi dengan lebih baik. Masalahnya lagi, untuk masuk SD pun sekarang anak-anak diharuskan sudah bisa membaca. Ada tes masuknya.
Finlandia: Anak-anak baru bersekolah setelah mereka berusia 7 tahun.

2. Indonesia: Anak-anak sudah harus membawa pulang pekerjaan rumah sejak mereka duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, meskipun hanya sekedar menulis angka atau menebalkan garis.
Finlandia: Sebelum mencapai usia remaja, anak-anak jarang sekali diminta mengerjakan pekerjaan rumah dan tidak pernah disuruh mengikuti ujian.

3. Indonesia: Masuk SD sudah mulai ada testnya, terutama SD favorit.
Finlandia: Hanya ada satu tes yang wajib diikuti oleh pelajar, dan itu saat mereka sudah berusia 16 tahun.

4. Indonesia: Kesenjangan sangat jelas terlihat antara murid yang pintar dan tidak pintar.
Finlandia: Kesenjangan antara murid terpintar dan murid paling tidak pintar di Finlandia adalah yang terkecil di dunia. Artinya, murid paling tidak pintar pun masih terhitung pintar.

5. Indonesia: Sampai saat ini, ada beberapa sekolah yang masih menerapkan pembagian kelas menurut tingkat intelegensia anak. Contohnya: peringkat 1-10 masuk Kelas A, peringkat 11-20 masuk Kelas B, dan seterusnya.
Finlandia: Sekolah tidak membedakan anak yang pintar dan kurang pintar. Seluruhnya ditempatkan di dalam ruang kelas yang sama.

6. Indonesia: Perbandingan jumlah guru dan murid sangat timpang. Satu guru sampai harus menangani 35 murid dalam satu kelas.
Finlandia: Perbandingan jumlah guru dan murid tidak terlalu jauh, sehingga setiap anak dapat tertangani dengan maksimal.

7. Indonesia: Guru harus mengajar hingga sepanjang hari non stop untuk kelas yang berbeda-beda. Bahkan ada guru yang harus mengajar di sekolah yang berbeda. Dapat dibayangkan bagaimana kelelahan yang dirasakan, dan itu harus dipikul sambil berhadapan dengan banyak murid.
Finlandia: Setiap guru hanya menghabiskan waktu 4 jam sehari di kelas dan punya waktu 2 jam per minggu yang didedikasikan untuk ‘professional development’.

8. Indonesia: Guru harus mencari biaya sendiri untuk melanjutkan pendidikannya. Tidak semua guru dibiayai oleh pemerintah.
Finlandia: Seluruh guru harus memiliki gelar Master/S-2 yang didanai seluruhnya oleh pemerintah.

9. Indonesia: Sekolah wajib mengikuti kurikulum yang ditetapkan pemerintah, yang hampir setiap 5 tahun berubah.
Finlandia: Kurikulum nasional hanya berlaku umum. Setiap guru diberikan kebebasan mengembangkan metode pengajarannya.

10. Indonesia: Para sarjana lulusan terbaik jarang yang mau menjadi guru. Mereka biasanya lebih memilih untuk menjadi direktur, pengusaha, atau terjun ke investasi dan saham.
Finlandia: Yang boleh menjadi guru hanyalah mereka yang merupakan 10 lulusan teratas di universitas.

11. Indonesia: Meskipun sudah ada program pendidikan gratis di sekolah negeri namun masih banyak pungutan-pungutan atas nama uang laboratorium, uang buku, uang ekstra kulikuler, dan sebagainya.
Finlandia: Seluruh sistem pendidikan didanai oleh negara.

12. Indonesia: Status guru masih sering diremehkan karena dianggap sebagai profesi yang kurang mencukupi kebutuhan hidup.
Finlandia: Status guru di masyarakat setara dengan status pengacara dan dokter.
 

Hasil Lengkap Rekapitulasi KPU di 33 Provinsi dan Luar Negeri

Komisi Pemilihan Umum (KPU) akhirnya merampungkan proses rekapitulasi dan mengumumkan hasilnya tepat waktu, sesuai dengan rencana.

Proses rekapitulasi berlangsung di Gedung KPU dan diumumkan hasilnya pada Selasa (22/7/2014) pukul 20.00 WIB.

Pasangan Jokowi-JK unggul dengan perolehan suara 70.997.883 atau 53,15% dari pasangan Prabowo-Hatta yang mendapatkan 62.576.444 suara atau 46,85%.

Berikut hasil lengkap rekapitulasi suara sah Pilpres 2014 di 33 provinsi dan luar negeri:

1. Kalimantan Barat
Prabowo-Hatta : 1.032.354
Jokowi-JK : 1.573.046

2. Nusa Tenggara Barat
Prabowo-Hatta : 1.844.178
Jokowi-JK : 701.238

3. Aceh
Prabowo-Hatta : 1.089.290
Jokowi-JK : 913.309

4. Sumatera Selatan
Prabowo-Hatta : 2.132.163
Jokowi-JK : 2.027.049

5. Kalimantan Selatan
Prabowo-Hatta : 941.809
Jokowi-JK 939.748

6. Kepulauan Riau
Prabowo-Hatta : 332.908
Jokowi-JK : 491.819

7. Jambi
Prabowo-Hatta : 871.316
Jokowi-JK : 897.787

8. Bangka Belitung
Prabowo-Hatta : 200.706
Jokowi-JK : 412.359

9. DIY
Prabowo-Hatta : 977.342
Jokowi-JK : 1.234.249

10. Bengkulu
Prabowo-Hatta : 433.173
Jokowi-JK : 523.669

11. Sulawesi Barat
Prabowo-Hatta : 165.494
Jokowi-JK : 456.021

12. Kalimantan Tengah
Prabowo-Hatta : 468.277
Jokowi-JK : 696.199

13. Gorontalo
Prabowo-Hatta : 378.735
Jokowi-JK : 221.497

14. Sulawesi Tenggara
Prabowo-Hatta : 511.134
Jokowi-JK : 622.217

15. Sumatera Barat
Prabowo-Hatta : 1.797.505
Jokowi-JK : 539.308

16. Bali
Prabowo-Hatta: 614.241
Jokowi-JK: 1.535.110

17. Riau
Prabowo-Hatta: 1.349.338
Jokowi-JK: 1.342.817

18. Maluku
Prabowo-Hatta: 433.981
Jokowi-JK: 443.040

19. Sulawesi Tengah
Prabowo-Hatta: 632.009
Jokowi-JK: 767.151

20. Jawa Tengah
Prabowo-Hatta: 6.485.720
Jokowi-JK: 12.959.540

21. Jawa Barat
Prabowo-Hatta: 14.167.381
Jokowi-JK: 9.530.315

22. Lampung
Prabowo-Hatta: 2.033.924
Jokowi-JK: 2.299.889

23. Sulawesi Utara
Prabowo-Hatta: 620.095
Jokowi-JK: 724.553

24. Kalimantan Timur
Prabowo-Hatta: 687.734
Jokowi-JK: 1.190.156

25. Papua Barat
Prabowo-Hatta: 172.528
Jokowi-JK : 360.379

26. Banten
Prabowo-Hatta: 3.192.671
Jokowi-JK: 2.398.631

27. NTT
Prabowo-Hatta: 769.391
Jokowi-JK: 1.488.076

28. Sulawesi Selatan
Prabowo-Hatta: 1.214.857
Jokowi-JK: 3.037.026

29. Maluku Utara
Prabowo-Hatta: 306.792
Jokowi-JK: 256.601

30. DKI Jakarta
Prabowo-Hatta: 2.528.064
Jokowi-JK: 2.859.894

31. Jawa Timur
Prabowo-Hatta 10.277.088
Jokowi-JK 11.669.313

32. Papua
Prabowo-Hatta 769.132
Jokowi-JK: 2.026.735

33. Sumatera Utara
Prabowo-Hatta: 2.831.514
Jokowi-JK: 3.494.835

34. Luar Negeri
Prabowo-Hatta: 313.600
Jokowi-JK: 364.257
 

Ciri-Ciri Takjil Yang Berbahaya Bagi Kesehatan

Bulan Puasa identik dengan jajanan untuk berbuka atau takjil yang biasa banyak di jajakan di pinggir jalan. Berbagai panganan dikemas dalam berbagai bentuk yang menarik dan ditawarkan kepada pembeli.

Namun sekali lagi, Anda harus cerdas dalam memilih karena tidak semua takjil yang ditawarkan tersebut baik bagi kesehatan. Lalu bagaimanakah cara mengenali takjil yang berbahaya dalam jangka panjang bila dikonsumsi?

Berikut beberapa ciri takjil yang tidak aman dikonsumsi:

1. Memiliki bau, rasa, dan tekstur yang mencurigakan
Jajanan yang menggunakan bahan kimia dalam pengolahannya biasanya meninggalkan sedikit rasa pahit di lidah, dan baunya juga menyengat. Bila makanan memakai pengenyal dan pengawet seperti boraks atau formalin, teksturnya pasti terasa kenyal dan tidak wajar.

2. Warna mencolok
Anda sebaiknya waspada terhadap makanan yang berwarna terlalu mencolok karena ada kemungkinan makanan tersebut menggunakan pewarna tekstil seperti rhodamin B atau metanil yellow. Bila makanan menggunakan pewarna makanan atau pewarna alami, warnanya cenderung agak pucat.

3. Kemasan plastik hitam dan kertas koran
Jangan memilih makanan yang dibungkus plastik kresek, apalagi yang berwarna hitam, sebab plastik ini biasanya hasil dari daur ulang yang kita tidak tahu riwayatnya pemakaiannya. Begitu juga tinta pada kertas koran dapat berpindah ke makanan yang kita konsumsi, terutama jika makanan tersebut panas dan berair.

4. Harga murah
Biasanya kita tertarik membeli sesuatu karena harganya murah, termasuk makanan. Namun jangan tergiur dengan makanan yang dijual terlalu murah karena hal ini biasanya adalah taktik pedagang “nakal” yang menggunakan bahan-bahan berbahaya atau bekas yang harganya memang murah.
 

Hasil Rekapitulasi KPU untuk 28 Provinsi

Komisi Pemilihan Umum (KPU) hingga saat ini Selasa (22/7/2014) pukul 09.00 WIB, telah menyelesaikan rekapitulasi suara untuk 28 provinsi.

1 provinsi yaitu Sumatera Utara ditunda penetapannya hingga siang hari ini karena ada dugaan pemilih fktif.
Hasil perolehan sementara, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla unggul dengan 50.326.198 suara. Sementara pasangan Prabowo-Hatta mendapatkan 45.550.254 suara.

Rekapitulasi untuk lima provinsi, termasuk Sumatera Utara, rencananya akan dilanjutkan pembahasannya pada rapat pleno lanjutan siang nanti. Empat provinsi yang belum dibahas adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, Maluku Utara, dan Papua.

Berikut hasil rekapitulasi KPU Pusat untuk 28 Provinsi:

1. Kalimantan Barat
Prabowo-Hatta: 1.032.354
Jokowi-JK: 1.573.046
Suara sah: 2.605.400

2. Nusa Tenggara Barat
Prabowo-Hatta: 1.844.178
Jokowi-JK: 701.238
Suara sah: 2.545.416

3. Aceh
Prabowo-Hatta: 1.089.290.
Jokowi-JK: 913.309
Suara sah: 2.002.599

4. Sumatera Selatan
Prabowo-Hatta: 2.132.163
Jokowi-JK: 2.027.049
Suara sah: 4.159.212

5. Kalimantan Selatan
Prabowo-Hatta: 941.809
Jokowi-JK 939.748
Suara sah: 1.881.557

6. Kepulauan Riau
Prabowo-Hatta: 332.908
Jokowi-JK: 491.819
Suara sah: 824.727

7. Jambi
Prabowo-Hatta: 871.316
Jokowi-JK: 897.787
Suara sah: 1.769.103

8. Bangka Belitung
Prabowo-Hatta: 200.706
Jokowi-JK: 412.359
Suara sah: 613.065

9. DIY
Prabowo-Hatta: 977.342
Jokowi-JK: 1.234.249
Suara sah: 2.211.591

10. Bengkulu
Prabowo-Hatta: 433.173
Jokowi-JK: 523.669
Suara sah: 956.842

11. Sulawesi Barat
Prabowo-Hatta: 165.494
Jokowi-JK: 456.021
Suara sah: 621.515

12. Kalimantan Tengah
Prabowo-Hatta: 468.277
Jokowi-JK: 696.199
Suara sah: 1.164.476

13. Gorontalo
Prabowo-Hatta: 378.735
Jokowi-JK: 221.497
Suara sah: 600.232

14. Sulawesi Tenggara
Prabowo-Hatta: 511.134
Jokowi-JK: 622.217
Suara sah: 1.133.351

15. Sumatera Barat
Prabowo-Hatta: 1.797.505
Jokowi-JK: 539.308
Suara sah: 2.336.813

16. Bali
Prabowo-Hatta: 614.241
Jokowi-JK: 1.535.110
Suara sah: 2.149.351

17. Riau
Prabowo-Hatta: 1.349.338
Jokowi-JK: 1.342. 817
Suara sah: 2.692.155

18. Maluku
Prabowo-Hatta: 433.981
Jokowi-JK: 433.030
Suara sah: 877.021

19. Sulawesi Tengah
Prabowo-Hatta: 632.009
Jokowi-JK: 767.151
Suara sah: 1.399.160

20. Jawa Tengah
Prabowo-Hatta: 6.485.720
Jokowi-JK: 12.959.540
Suara sah: 19.445.260

21. Jawa Barat
Prabowo-Hatta: 14.167.381
Jokowi-JK: 9.530.315
Suara sah: 23.697696

22. Lampung
Prabowo-Hatta: 2.033.924
Jokowi-JK: 2.299.889
Suara sah: 4.333.813

23. Sulawesi Utara
Prabowo-Hatta: 620.095
Jokowi-JK: 724.553
Total suara sah 1.344.648

24. Kalimantan Timur
Prabowo-Hatta: 687.734 suara.
Jokowi-JK 1.190.156 suara.
Total suara sah 1.877.890.

25. Papua Barat
Prabowo-Hatta 172.528
Jokowi JK 360.379
Jumlah suara sah : 532.907

26. Banten
Prabowo-Hatta 3.192.671
Jokowi-JK 2.398.631
Total suara sah 5.591.302

27. Nusa Tenggara Timur (NTT)
Prabowo-Hatta 769.391
Jokowi-JK 1.488.076

28. Sulawesi Selatan
Prabowo-Hatta 1.214.857
Jokowi-JK 3.037.026.
 

Peribahasa Lucu ala Cak Lontong

Bila Anda penggemar acara komedi, khususnya ILK (Indonesia Lawak Klub), pasti tidak asing lagi dengan sosok Cak Lontong. Pelawak yang mempunyai nama asli Lies Hartono ini selalu mampu mengocok perut pemirsa dengan lawakan-lawakan cerdasnya seputar pengolahan kata definisi, survey, hingga plesetan peribahasa. Soal plesetan peribahasa ini belakangan sudah menjadi “trend baru” di berbagai sosial media.


Berikut kumpulan dari beberapa peribahasa lucu Cak Lontong:


Air beriak tanda ada orang tenggelam
aslinya : Air beriak tanda tak dalam

Dimana bumi dipijak, disitu mau ngapain?
aslinya : Dimana bumi dipijak, disitu langit dijinjing

Buah jatuh tidak jauh, kok
aslinya : Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya

Bagai kacang lupa gak dimakan
aslinya : Bagai kacang lupa kulitnya

Maling teriak maling yang lain dengar gak?
aslinya : Maling teriak maling

Sedia payung sebelum dan sesudahnya terima kasih
aslinya : Sedia payung sebelum hujan

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga boleh kan?
aslinya : Air cucuran jatuhnya ke pelimbahan juga

Musuh dalam selimut tak kelihatan gara gara semut di pelupuk mata
aslinya : Musuh dalam selimut & Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak

Pura pura dalam perahu, saya yakin kura-kura tidak tahu
aslinya : Kura-kura dalam perahu, pura pura tidak tahu

Tak kenal maka tak apalah
aslinya : Tak kenal maka tak sayang

Berat sama dipikul, ringan mana?
aslinya : Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing

Sepandai pandai tupai melompat, kalau ngantuk ya tidur juga
aslinya : Sepandai pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga

Asam di gunung, garam di laut, yang lainnya dimana?
aslinya : Asam di gunung, garam di laut, bertemunya dalam satu belanga

Bersatu kita teguh, berempat kita lima
aslinya : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh

Setinggi tingginya bangau terbang, akhirnya terbang juga
aslinya : Setinggi tingginya bangau terbang, akhirnya ke kubangan juga

Bermain air basah, bermain bola capek
aslinya : Bermain air basah, bermain api terbakar

Bagai makan buah sima dan lakama
aslinya : Bagai makan buah simalakama

Beli karung, eh di dalamnya ada kucing
aslinya : Beli kucing dalam karung

Hujan emas di negeri orang, lebih enak orang di negeri itu dong?
aslinya : Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri

Menepuk air di dulang, eh ternyata salah orang
aslinya : Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain kali jangan diulang
aslinya : Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya

Lempar batu sembunyi eh masih ketahuan
aslinya : Lempar batu sembunyi tangan

Kalah jadi abu, menang jadi gak enak nih
aslinya : Kalah jadi abu, menang jadi arang

Mulutmu, hari maumu apa sih?
aslinya : Mulutmu, harimaumu

Berani karena takut, benar benar salah
aslinya : Berani karena benar, takut karena salah

Bagai musang berbulu, dicukur malah lebih keren
aslinya : Bagai musang berbulu domba

Dalamnya laut, siapa tahu dapat di duga dalam hati
aslinya : Dalamnya laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu

Bukan salah bunda mengandung, tapi bapak bisa saja salah
aslinya : Bukan salah bunda mengandung, salah oleh badan buruk pinta

Ada asap, ada ape?
aslinya : Ada asap ada api

Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak enggak?
aslinya : Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah

Seperti padi, kian berisi kian dan terima kasih
aslinya : Seperti padi, kian berisi kian merunduk

Setali 3 uang seperak 2 perak apa namanya?
aslinya : Setali 3 uang

Mencoreng arang di muka sendiri masa gak boleh?
aslinya : Mencoreng arang di muka sendiri

Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai, ujung pangkal apa?
aslinya : Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai

Buruk muka, lah cerminnya sebelah
aslinya : Buruk muka cermin dibelah

Gali lubang tutup dong
aslinya : Gali lubang tutup lubang

Berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepi, anda berarti selamat
aslinya : Berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian

Siapa cepat, dia dapat diperlambat
aslinya : Siapa cepat, dia dapat

Seperti cacing pemanasan
aslinya : Seperti cacing kepanasan

Tua tua kela dimana ada uang, disitu ada barang
Originalnya : Tua tua keladi & dimana ada uang, disitu ada barang
 

36 Kebiasaan Orang Tua Yang Menghasilkan Perilaku Buruk Pada Anak


Anak ibarat buah hati dan karunia dari Yang Maha Kuasa yang harus kita rawat dan jaga dengan baik. Namun demi nama “rasa sayang” kadang tanpa kita sadari kita telah menanamkan prinsip atau nilai-nilai yang keliru terhadap anak kita.

Hal tersebut akan terus terekam dalam memori sang anak dan akan terus terbawa seiring dengan pertumbuhannya sehingga pada saatnya nanti kita sendiri yang akan merasa kerepotan karena anak kita ternyata “menerapkan” apa yang sudah diajarkan orang tua mereka saat mereka kecil dulu.

1. Raja Kecil yang Tak Pernah Salah
Pernahkah kita memukul meja atau kursi saat anak kita terjatuh dan menangis ketika dia baru belajar berjalan sambil mengatakan, “Mejanya nakal ya? Ini sudah Mama pukul”.
Anak kita mungkin akan berhenti menangis, namun sebenarnya kita telah mengajarkan kepada anak kita bahwa ia tidak pernah bersalah. Yang salah adalah orang lain atau benda lain. Dan ini akan terus terbawa ketika dia melakukan kekeliruan maka orang lain yang harus disalahkan. Dia akan melawan bila dia yang harus disalahkan.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah ajari dia untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Katakan padanya, “Sayang, kamu terbentur ya. Sakit ya? Lain kali hati-hati ya, jalannya pelan-pelan saja dulu supaya tidak membentur lagi”.

2. Berbohong Kecil-Kecilan
Pernahkah kita berkata saat anak kita menangis melihat kita pergi ke kantor, “Sayang, jangan menangis ya. Mama cuma pergi sebentar kok”. Padahal kita baru balik ke rumah sore atau bahkan malam hari.
Atau mungkin juga kita pernah berkata, “kalau ga mau makan nanti ga Mama ajak jalan-jalan lho”. Padahal kita sendiri tahu bahwa tidak ada hubungannya antara jalan-jalan dengan pola makan anak.
Mungkin kita mengira bahwa yang kita lakukan hanyalah mengalihkan perhatiannya saja, namun tanpa kita sadari anak kita akan merasa kesulitan membedakan mana pernyataan kita yang benar dan mana yang tidak. Bahkan anak akan berpikir bahwa orang tuanya selalu bohong, sehingga dia mulai tidak menuruti perkataan kita.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah berkatalah jujur tentang apa yang terjadi. Berkatalah, “Sayang, Mama akan berangkat ke kantor, kamu tidak bisa ikut. Nanti kalau Mama ke kebun binatang, kamu boleh ikut”.
Mungkin anak kita tidak akan bisa langsung mengerti, namun lambat laun dia akan menerima bahwa bila orang tuanya ke kantor dia tidak bisa ikut. Pastikan kita selalu jujur dalam mengatakan sesuatu. Anak akan mampu memahami dan menuruti apa yang kita katakan.

3. Sedikit-Sedikit Mengancam
Pernahkah kita berteriak, “Kakak, jangan ganggu Adik! Nanti Papa marah lho!”.
Atau, “Jangan naik-naik meja! Kalau kamu jatuh Mama akan biarkan!”
Berteriak kepada anak, apalagi tanpa berpaling dari kegiatan kita, akan mereka anggap sebagai ancaman. Anak kita adalah makhluk kecil lucu yang bisa berpikir. Mereka tidak akan mendengarkan teriakan dan ancaman kita lagi bila kita sering mengatakannya namun tidak pernah menindaklanjutinya, bahkan melupakan perkataan kita.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah tidak perlu membuang tenaga dengan berteriak-teriak. Hampiri dia, tatap matanya, perlihatkan ekspresi kita kalau kita tidak senang dengan tindakannya. Berkatalah dengan tegas, “Mama mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu”. Atau, “Sayang, bila kamu tidak meminjamkan mainan ini ke adikmu, Mama akan menyimpan mainan ini dan kalian berdua tidak bisa bermain. Mainan akan Mama keluarkan bila kamu mau pinjamkan mainan itu ke adikmu”. Namun segera tepati pernyataan kita dengan tindakan.


4. Tidak Jelas
Kadang sering kita berkata, “Jangan lakukan itu lagi!” atau “Mama tidak suka kalau kamu begitu!”
Kita lupa menjelaskan tindakan apa yang tidak kita sukai dari anak kita dan tindakan apa yang seharusnya mereka lakukan, sehingga mereka tidak pernah tahu apa kesalahan mereka sebenarnya dan apa yang harus mereka lakukan agar orang tuanya tidak marah lagi.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah menjelaskan kepada anak tindakan apa yang tidak seharusnya mereka lakukan dan tindakan apa yang seharusnya mereka lakukan. Jangan lupa juga untuk mengucapkan terima kasih atas usahanya untuk berubah.

5. Fokus pada Kesalahan
Kita sebagai orang tua seringkali memarahi anak kita bila mereka bandel atau berbuat kesalahan. Kita langsung memasang muka garang bila anak kita bertengkar. Namun saat mereka bermain dengan rukun, apa yang kita lakukan? Kita hanya membiarkan saja mereka bermain.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah menyapa mereka, memeluk mereka, dan berkata bahwa kita senang melihat mereka bermain bersama. Bila kita hanya diam, mereka justru akan berusaha mencari perhatian kita dengan cara bertengkar.

6. Merendahkan Diri Sendiri
Bila anak kita lebih sering serius dengan game pada gadgetnya daripada belajar, maka kita akan berkata, “Berhenti main gamenya! Nanti Mama bilangin Papa lho!”
Tanpa kita sadari, kita telah merendahkan diri kita sendiri bahwa yang mampu menghentikan kegiatan bermainnya adalah hanya Papanya. Jadi, jangan heran bila anak kita seringkali tidak mau mendengarkan peringatan kita, dan hanya mau mendengar perkataan Papanya.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah dekati anak kita, tatap matanya, berkatalah bahwa ia harus segera berhenti bermain, atau berikan pilihan. “Sayang, Mama mau kamu berhenti bermain gamenya dan segera belajar”. Atau, “kamu mau belajar sekarang atau lima menit lagi?” Kalau dia memilih lima menit lagi, segeralah menjawab, “baik kita sepakat lima menit lagi. Kalau lima menit lagi Mama lihat kau masih bermain, Mama akan simpan gadget kamu dan baru boleh bermain lagi minggu depan”. Lima menit kemudian dekati dia lagi dan kali ini tanpa kompromi. Bila dia tidak mau menurut, segera laksanakan konsekuensinya.

7. Papa Mama Tidak Kompak
Biasanya seorang Mama lebih merasa sayang dan kasihan pada anaknya, dan ini terbawa sampai ke seputar cara mendidik anak. Papa menegur anaknya untuk tidak menonton tayangan televisi yang tidak sesuai dengan umurnya, namun Mama justru member ijin dengan dalih bahwa sekali-kali boleh agar anak tidak stres.
Jika ini terjadi, anak akan segera menangkap siapa yang menyenangkan baginya. Setiap Papa menegur maka dia akan menganggap bahwa Papanya jahat, dan Mamanya baik. Demikian juga pada kasus sebaliknya. Sang anak akan segera berlindung ke “pembelanya” setiap ada salah satu yang memarahinya.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah harus kompak dalam mendidik anak. Di hadapan anak, jangan sampai berbeda pendapat untuk hal-hal yang berhubungan langsung dengan persoalan mendidik anak. Pada saat salah satu dari kita sedang mendidik anak, maka pasangan kita harus mendukungnya. Contoh, ketika Papa mendidik anaknya untuk berlaku baik terhadap sang kakak, idealnya Mama juga mendukung pernyataan Papa, “Betul kata Papa, Dik. Kakak juga perlu kamu sayang dan hormati”.

8. Campur Tangan Nenek, Kakek, Om, Tante, atau Pihak Lain
Bila Papa dan Mama sudah sepakat dan kompak bagaimana mendidik anak, “sang pembela” justru dapat muncul dari orang ketiga. Mereka bisa Kakek, Nenek, Om, Tante, atau siapa saja yang tinggal serumah atau berdekatan dengan kita. Pembelaan pihak ketiga tetap akan membawa dampak buruk bagi si anak. Anak akan cenderung berlindung di balik orang yang membelanya, dan justru melawan orang tuanya.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah pastikan dan yakinkan kepada siapa pun yang tinggal di rumah kita untuk memiliki kesepakatan dalam mendidik dan tidak ikut campur pada saat proses pendidikan sedang dilakukan oleh kita sebagai orang tua si anak.

9. Menakut-nakuti
Kita seringkali menakut-nakuti anak kita dengan sosok satpam, polisi, atau hantu bila dia mulai tidak menuruti perkataan kita. Hasilnya memang anak sering kali berhenti merengek, namun secara tidak sadar kita telah menanamkan rasa takut dan benci terhadap tokoh yang kita sebutkan tadi.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah memberi pengertian secara jujur kepada dia seperti kita berbicara kepada orang dewasa, karena sesungguhnya anak kita juga dapat berpikir seperti orang dewasa. Jika anak tetap memaksa, katakanlah dengan penuh pengertian dan ketegasan sambil menatap matanya, “Mama tetap tidak akan membelikan kamu mainan itu. Kalau kamu masih tetap merengek terus, Mama tidak akan membelikanmu mainan lagi lainkali”.


10. Obral Janji
Anak kita memiliki ingatan yang tajam. Ia akan selalu mengingat apa yang kita ucapkan, termasuk janji yang kita berikan dan sangsi yang akan dia terima apabila dia melakukan sesuatu yang tidak benar. Karena itu, jangan terlalu sering mengobral janji hanya untuk merayu atau mengalihkan perhatiannya yang ternyata tidak dapat kita penuhi.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah memikirkan terlebih dahulu janji yang akan kita berikan itu dapat kita penuhi. Bila ternyata kita tidak dapat memenuhinya karena beberapa hal, segeralah minta maaf, berikan alasan yang jujur, dan minta dia untuk menentukan apa yang bisa kita lakukan bersama anak untuk mengganti janji itu.

11. Tidak Konsisten
Seringkali kita sendiri sebagai orang tua tidak konsisten dalam menegakkan aturan yang telah kita ucapkan kepada anak kita. Contoh klasik dan sering terjadi adalah pada saat kita bersama anak di tempat umum, anak merengek meminta sesuatu dan rengekannya berubah menjadi teriakan dan gerak perlawanan. Anak terus mencari akal agar keinginannya dikabulkan, bahkan seringkali membuat kita sebagai orang tua malu. Pada saat inilah kita seringkali luluh karena tidak sabar lagi dengan rengekan anak kita. Akhirnya kita mengiyakan keinginan si anak. “Ya sudah, kamu ambil satu permennya. Tapi satu saja ya!”
Karena kita tidak konsisten dengan aturan yang kita buat sendiri, maka anak akan mengingat dan mengulangi usahanya lagi pada kesempatan lain, bahkan mungkin dengan cara yang lebih heboh.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah tetaplah konsisten dalam mendidik anak kita. Tidak perlu malu atau takut dikatakan sebagai orang tua yang kikir atau tega. Ingatlah selalu bahwa kita sedang mendidik anak kita. Sekali kita konsisten, anak tak akan pernah mencobanya lagi.

12. Merasa Bersalah Karena Tidak Bisa Memberikan yang Terbaik
Saat ini banyak orang tua yang keduanya, Papa dan Mama, harus bekerja di luar rumah sehingga tidak mempunyai banyak waktu luang untuk anaknya. Kita merasa bersalah akan keadaan ini. Maka tidak jarang orang tua justru lebih longgar terhadap aturan kepada anaknya karena perasaan bersalah tersebut. “Biarlah dia seperti ini, mungkin karena saya juga yang jarang bertemu dengannya”. Semakin kita memaklumi perilaku buruk yang diperbuat anak, semakin sering ia akan mengulanginya.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah jangan pernah memaklumi perilaku anak yang tidak baik. Lakukanlah pendekatan kualitas jika kita hanya punya sedikit waktu. Gunakan waktu yang minim itu untuk bisa berbagi rasa sepenuhnya diantara sisa-sisa tenaga kita. Memang tidak mudah, tapi lakukanlah demi mereka dan keluarga kita, anak akan terbiasa.

13. Mudah Menyerah
Setiap kita memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. Ada yang lembut, dan ada yang keras. Bila orang tua yang berwatak lembut memiliki anak yang berwatak keras maka seringkali justru sang anak yang lebih dominan daripada orang tuanya. Akibat lebih lanjut, orang tua sulit mengendalikan perilaku anaknya dan cenderung pasrah. Orang tua sering berkata, “Biar sajalah dia lakukan apa yang dia mau, saya sudah nggak sanggup lagi mendidiknya”.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah belajar dan berusaha dengan keras untuk menjadi lebih tegas dalam mengambil keputusan, dan pantang menyerah dalam mendidik anak.

14. Marah Berlebihan
Yang perlu kita ingat adalah marah tidak sama dengan mendidik. Bicara tegas tidak sama dengan bicara keras. Memarahi anak adalah salah satu cara mendidik yang paling buruk. Pada saat marah sebenarnya kita tidak sedang mendidik anak melainkan melampiaskan kekesalan kita karena tidak dapat mengatasi masalah dengan baik. Bicara tegas adalah bicara pada saat pikiran kita rasional, sedangkan bicara keras adalah pada saat pikiran kita dikuasai emosi.
Pada saat marah biasanya kita emosi dan mengucapkan atau melakukan hal-hal yang kelak kita sesali. Setelah ini terjadi, biasanya kita akan menyesal dan berusaha memperbaikinya dengan memberikan dispensasi atau membolehkan hal-hal yang sebelumnya kita larang. Bila hal ini berlangsung berulang kali, maka anak kita akan selalu berusaha memancing amarah kita, yang ujung-ujungnya si anak menikmati hasilnya. Anak yang sering dimarahi cenderung tidak jadi lebih baik.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah jangan pernah bicara saat marah. Lebih baik redakan dulu amarah dengan pergi menghindar hingga marah mereda. Bicaralah yang tegas pada anak kita dengan nada datar dan serius sambil menatap matanya dalam-dalam.

15. Gengsi Menyapa
Apakah Anda pernah mengalami hubungan yang tiba-tiba aneh setelah kita memarahi sang anak? Setelah kita marah, kadang ada rasa gengsi untuk menyapa terlebih dulu kepada anak, menunggu agar si anak meminta maaf kepada kita atau memulai bicara terlebih dahulu. Masing-masing pihak menunggu untuk memulai kembali hubungan yang normal.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah mulailah bicara kepada anak saat dia mulai menunjukkan tanda-tanda perdamaian dan mengikuti keinginan kita. Dengan cara ini kita dapat menunjukkan pada anak bahwa kita tidak suka pada sikap sang anak, bukan pada pribadinya.

16. Tukang Maklum
Orang tua yang konservatif biasanya cenderung untuk memaklumi tindakan anaknya, khususnya anak laki-laki. Bila anaknya mulai menunjukkan tingkah usil, nakal, mengacak-acak sesuatu, orang tua hanya berkata, “maklum aja, anak cowok”. Atau, “ maklumlah, namanya juga anak-anak”.
Bila kita selalu memaklumi tindakan keliru yang dilakukan anak kita, otomatis si anak berpikir perilakunya sudah benar, dan akan jadi sangat buruk kalau terbawa sampai dewasa.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah tidak pernah memaklumi tindakan keliru dari si anak. Kita harus mendidik setiap anak tanpa kecuali sesuai dengan sifat dasarnya. Setiap anak bisa dididik dengan tegas sejak usia 2 tahun. Semakin dini usianya, semakin mudah untuk dikelola dan diajak kerja sama. Anak kita akan mau bekerja sama selama kita selalu mengajaknya dialog dari hati ke hati, tegas, dan konsisten. Ingat, tidak perlu menunggu hingga usianya beranjak dewasa, karena semakin bertambah usia, semakin tinggi tingkat kesulitan untuk mengubah perilaku buruknya.

17. Berharap Perubahan Instan
Kita seringkali berharap anak kita dapat mengubah perilakunya dalam waktu cepat. Kita ingin agar anak kita berubah total dalam waktu sehari. Apabila kita sering memaksakan perubahan pada anak kita dalam waku singkat tanpa tahapan yang wajar, kemungkinan besar anak sulit memenuhinya. Dan ketika ia gagal dalam memenuhi keinginan kita, ia akan frustasi dan tidak yakin bisa melakukanannya lagi. Akibatnya ia memilih untuk tidak melakukannya dengan banyak alasan, acuh tak acuh, atau marah-marah pada adiknya.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah memberikan waktu perubahan yang rasional untuk bisa dicapainya. Hindari target perubahan yang tidak mungkin bisa dicapainya. Bila mungkin, ajaklah ia untuk melakukan perubahan dari hal yang paling mudah. Biarkanlah ia memilih hal yang paling mudah menurutnya untuk diubah. Keberhasilannya untuk melakukan perubahan tersebut memotivasi anak untuk melakukan perubahan lainnya yang lebih sulit. Puji dan jika perlu rayakan keberhasilan yang dicapainya, sekecil dan sesederhana apapun perubahan itu. Hal ini untuk menunjukkan betapa seriusnya perhatian kita terhadap usaha yang telah dilakukannya. Pusatkan perhatian dan pujian kita pada usahanya, bukan pada hasilnya.

18. Bukan Pendengar Yang Baik
Sebagian besar dari kita adalah bukan pendengar yang baik. Bila ada masalah dengan anak kita, biasanya kita lebih sering berbicara daripada mendengar, lebih sering menyela dan langsung menasehati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal usul kejadiannya. Akibatnya si anak justru tidak mau bicara dan marah pada kita.
Bila kita tidak berusaha mendengarkan mereka, maka mereka pun akan bersikap seperti itu pada kita dan akan belajar mengabaikan kita.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah belajar menjadi pendengar yang baik. Perhatikan setiap ucapannya. Ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menunjukkan ketertarikan kita akan persoalan yang dihadapinya. Anak kita juga butuh untuk didengar.


19. Selalu Menuruti Kemauan Anak
Anak pertama, anak tunggal, anak laki atau wanita satu-satunya, atau anak yang sudah lama dinanti-nantikan kelahirannya seringkali menjadi raja kecil yang selalu dituruti kemauannya. Jika ini sudah menjadi kebiasaan, maka akan sulit sekali membendungnya. Anak yang dididik dengan cara ini akan menjadi anak yang super egois, tidak kenal toleransi, dan tidak bisa bersosialisasi.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah tidak selalu menuruti kemauan sang anak. Jangan pernah menerapkan pola asuh seperti ini karena sangat tidak sehat bagi anak. Rasa sayang tidak harus di tunjukkan dengan menuruti segala kemauannya. Jika kita benar sayang, maka kita harus mengajarinya tentang nilai baik dan buruk, yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang tidak. Jika tidak, rasa “sayang” kita akan membuatnya menjadi anak yang egois dan ‘semau gue’. Inilah yang dalam bahasa awam sering disebut anak manja.

20. Terlalu Banyak Jangan
Kebalikan dari yang atas, orang tua juga seringkali terlalu over protektif. Anak tidak boleh ini, tidak boleh itu. Kita cenderung membentuk anak kita sesuai dengan keinginan kita. Anak kita harus begini, tidak boleh begitu. Pada saatnya anak tidak tahan lagi dengan cara kita, dan akhirnya melakukan perlawanan.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah berilah izin kepada anak untuk melakukan banyak hal yang baik dan positif. Berlatihlah untuk selalu berdialog agar kita bisa melihat dan memahami sudut pandang sang anak. Bangunlah situasi saling mempercayai antara anak dan kita. Kurangilah jumlah larangan yang berlebihan dengan meminta pertimbangan pada pasangan kita. Gunakan kesepakatan untuk memberikan batasan yang lebih baik. Misal, “Kamu boleh keluar tapi jam 9 malam harus sudah tiba di rumah. Jika kemungkinan pulang terlambat, segera beri tahu Papa atau Mama”.


21. Terlalu Cepat Menyimpulkan
Salah satu akibat dari kita sebagai pendengar yang buruk, yang selalu memotong pembicaraan pada saat anak kita sedang memberi penjelasan adalah terlalu cepat mengambil kesimpulan yang cenderung memojokkan anak kita, bahkan menuduhnya. Padahal kesimpulan kita belum tentu benar, dan seandainya benar, cara seperti ini akan menyakitkan hati anak kita.
Seperti contoh anak yang pulang terlambat. Pada saat anak kita pulag terlambat dan hendak menjelaskan penyebabnya, kita memotong pembicaraannya dengan ungkapan, “Sudah, nggak usah banyak alasan”. Atau, “Mama tahu, kamu pasti main ke tempat itu lagi kan?!”
Jika kita melakukan kebiasaan ini terus menerus, anak akan berpikir kita adalah orang tua yang sok tahu, yang tidak mau memahami keadaan, dan menyebalkan. Lalu mereka tidak mau bercerita atau berbicara lagi, dan akibat selanjutnya sang anak akan benar-benar melakukan hal-hal yang kita tuduhkan padanya. Ia tidak mau mendengarkan nasehat kita lagi, dan pada tahapan terburuk, dia akan pergi pada saat kita sedang berbicara padanya.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah jangan pernah memotong pembicaraan anak dan mengambil kesimpulan terlalu dini. Tak seorang pun yang suka bila pembicaraannya dipotong, apalagi ceritanya disimpulkan oleh orang lain. Ada saatnya kita akan diminta bicara, tentunya setelah anak kita selesai dengan ceritanya.

22. Ungkit-Ungkit Kesalahan Masa Lalu
Biasanya, setelah menjadi pendengar yang buruk dan terlalu cepat menyimpulkan akan dilanjutkan dengan penutup yang tidak kalah menyakitkan hati anak kita, yakni dengan mengungkit-ungkit catatan kesalahan yang pernah dibuat anak kita.
Mungkin kita berharap dengan mengungkit kejadian masa lalu, anak akan belajar dari masalah. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, ia akan sakit hati dan berusaha mengulangi kesalahannya sebagai tindakan balasan dari sakit hatinya.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah janganlah ungkit-ungkit kesalahan masa lalunya. Cukup dengan tatapan mata, jika perlu rangkullah ia. Ikutlah berempati sampai dia mengakui kesalahan dan kekeliruannya. Ucapkan pernyataan seperti, “Mama bangga kamu bisa menemukan hikmah positif dari kejadian ini”. Jika ini yang kita lakukan, maka selanjutnya dia akan lebih mendengar nasehat kita.

23. Suka Membandingkan
Hal yang paling tidak kita sukai adalah saat kita dibandingkan dengan orang lain. Kita sangat tidak suka bila keberadaan kita baik secara fisik atau sifat kita dibandingkan dengan orang lain.
Tetapi celakanya, kebanyakan orang tua entah kenapa justru sering melakukan hal ini pada anaknya. Membandingkan anak yang malas dengan yang rajin, yang rapi dengan yang cuek, yang mendapat nilai tinggi di sekolah dengan anak yang nilainya rendah. Seperti, “Coba kalau kamu mau rajin belajar seperti adikmu, pasti nilaimu tidak seperti ini!”
Kalau ini kita teruskan, anak akan semakin tidak menyukai kita dan timbul rasa iri dan dengki kepada lawan pembandingnya. Sang pembanding akan merasa sombong dan arogan.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah jangan sekali-kali membandingkan satu dengan yang lainnya. Tiap anak mempunyai sifat dan karakternya masing-masing. Bila ingin membandingkan, bandingkanlah dengan perilaku mereka di masa lalu, ataupun dengan nilai-nilai ideal yang ingin mereka capai. Misalnya, “Sayang, biasanya anak Mama suka merapikan tempat tidur, kenapa hari ini nggak ya?”

24. Paling Benar
Sikap egois kita terhadap anak juga merupakan salah satu kebiasaan orang tua yang apabila diteruskan dapat membawa dampak buruk bagi si anak.
Contoh, perkataan seperti, “Sudahlah, kamu ini masih kecil, belum tahu apa-apa soal kehidupan”. Atau, “Mama ini sudah banyak makan asam garam kehidupan, jadi nggak usah kamu nasehati Mama”.
Kebiasaan ini membuat proses komunikasi dengan anak mengalami jalan buntu. Meskipun maksud kita adalah untuk menunjukkan superioritas kita di depan anak, tapi yang ditangkap anak adalah semacam kesombongan yang luar biasa, dan tentu saja tak seorang pun mau mendengarkan nasehat orang yang sombong.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah janganlah merasa menjadi orang yang paling tahu, paling hebat, paling alim, dan paling benar. Dengarkanlah setiap masukan yang datang dari anak kita.

25. Melempar Tanggung Jawab
Proses mendidik anak adalah tanggung jawab orang tua, Papa dan Mama (bukan Papa atau Mama). Keduanya harus saling membantu dan berkomunikasi dalam proses tersebut. Bila terjadi salah satu menyalahkan yang lain atau saling lempar tanggung jawab dalam mendidik anak maka dapat membawa dampak buruk bagi anak.
Ungkapan yang sering terdengar anak adalah, “Kamu ini tidak becus mengurus anak. Lihat, anak kita sampai seperti ini”. Lalu yang lain membela diri, “Enak saja, kamu sendiri selama ini kemana?”
Tunggu saja hasilnya, sang anak akan merasa perilaku buruknya adalah bukan karena kesalahannya, tapi karena ketidakbecusan orang tuanya. Jelas anak kita akan merasa terbela dan semakin berperilaku buruk.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah berhenti saling menyalahkan. Pendidikan anak adalah kerja sama tim, dan bukan individu. Jangan pakai alasan tidak ada waktu, semua orang sama-sama memiliki waktu 24 jam sehari, jadi aturlah waktu kita dengan berbagai macam cara dan kompaklah selalu dengan pasangan kita.

26. Kakak Harus Selalu Mengalah
Budaya “yang tua harus mengalah dengan yang muda” masih kental dalam masyarakat kita, termasuk dalam mendidik anak. Seringkali terdengar ungkapan, “Kak, ayo mengalah dengan adikmu”. Atau, “Kamu ini sudah besar, masa nggak bisa mengalah dengan adiknya”. Sebenarnya, adakah dasar logikanya dan dimana prinsip keadilannya?
Apa yang terjadi selanjutnya? Sang kakak akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri, dan membenci adiknya karena selalu dibela. Sementara sang adik akan tumbuh menjadi pribadi yang egois, merasa paling benar, dan lebih berani menyakiti kakaknya. Lama-kelamaan si kakak mulai banyak melawan atas ketidak adilan ini, dan yang terjadi kemudian adalah kedua bersaudara ini makin sering bertengkar.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah berlaku adil. Ketahuilah informasi secara lengkap sebelum mengambil keputusan. Jelaskan nilai benar dan salah pada masing-masing anak tanpa memandang dia lebih tua atau lebih muda, buat aturan main yang jelas dan mudah dipahami oleh anak-anak anda. Ingat, kebenaran tidak terletak pada usia.



27. Menghukum Fisik
Hukuman fisik kepada anak biasanya didahului dari emosi yang timbul di hati kita, menjadi sensitif, naik ke suara keras, lalu akhirnya meningkat menjadi tindakan fisik yang menyakiti anak kita.
Jika kita terbiasa dengan ini, akan timbul rasa benci dalam diri anak terhadap orang tuanya, anak meniru tindakan orang tuanya dengan memukul adiknya atau teman sekolahnya. Anak juga tumbuh menjadi pribadi yang suka membangkang secara destruktif.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah jangan pernah sekalipun menggunakan hukuman fisik yang menyakitkan kepada anak, apalagi menggunakan alat seperti sabuk, rotan, atau sapu lidi. Berdialoglah dengan anak, temukan penyebab mengapa dia bertindak demikian, bila dia memang salah berbicaralah secara tegas bahwa hal itu tidak boleh diulangi lagi. Tegaskan konsekuensi bila tindakan tersebut diulanginya lagi.
Jika cara dialog tidak berhasil, maka cobalah evaluasi diri kita. Temukanlah jenis kebiasaan yang keliru yang selama ini telah kita lakukan dan menyebabkan anak kita berperilaku seperti itu.

28. Menunda, Melupakan, atau Membatalkan Hukuman
Sekali lagi, mendidik anak memerlukan ketegasan dan konsistensi dari kedua orang tua. Jika kita menjanjikan sebuah konsekuensi hukuman atau sanksi bila anak berperilaku buruk, jangan menunggu waktu yang terlalu lama, menunda, atau bahkan membatalkan karena alasan lupa atau kasihan. Bila itu sering kita lakukan, anak akan mempunyai anggapan bahwa kita hanya omong doang, maka mereka akan cenderung untuk melanggar kesepakatan karena hukuman tidak dilaksanakan.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah segera menerapkan sanksi yang sudah disepakati. Jika kita kasihan, kita bisa mengurangi sanksinya, dan usahakan hukumannya jangan bersifat fisik, tapi seperti pengurangan bobot kesukaan mereka seperti jam bermain, menonton tv, ataupun bermain video game.

29. Mudah Terpancing Emosi
Kita mudah terpancing emosi bila anak mulai rewel dan merengek, bahkan menangis, untuk suatu tujuan agar kita membelikan sesuatu yang dia ingini. Jika kita akhirnya terpancing menjadi marah, atau bahkan mengalah dengan menuruti kemauannya, maka anak akan merasa menang karena sudah berhasil mengendalikan orang tuanya. Anak lalu cenderung untuk memakai “senjata” itu kembali, bahkan dengan cara yang lebih hebat agar emosi kita terpancing.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah berusaha mengendalikan emosi kita dan jangan sampai terpancing untuk menuruti keinginannya. Yang terbaik adalah diam, tidak bicara, dan tidak menanggapi. Jangan pedulikan ulah anak kita. Bila anak menangis katakan padanya bahwa tangisannya tidak akan mengubah keputusan kita. Cukup tatap dengan mata pada anak kita yang berulah, hingga ia berhenti berulah, Bila proses ini membutuhkan waktu lebih dari 30 menit tabahlah untuk melakukannya. Dalam proses ini kita jangan malu pada orang yang memperhatikan kita, dan jangan pula ada orang lain yang berusaha menolong anak kita yang sedang berulah tadi. Sekali kita berhasil membuat anak kita mengalah, maka selanjutnya dia tidak akan mengulangi usahanya lagi.

30. Menghukum Saat Marah
Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, baik dalam bentuk kata-kata maupun hukuman akan cenderung menyakiti dan menghakimi, dan tidak menjadikan anak lebih baik.
Saat marah kita cenderung memberikan hukuman yang seberat-beratnya pada anak kita, dan hanya akan menimbulkan perlawanan baru yang lebih kuat dari anak kita, sementara tujuan pemberian sanksi adalah untuk menyadarkan anak supaya ia memahami perilaku buruknya. Anak juga bisa mendendam pada orang tuanya karena sering mendapatkan perlakuan di luar batas.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah segeralah menjauh dari anak bila kita sedang marah. Setelah emosi reda, barulah kita memberikan hukuman yang mendidik dan tepat dengan konteks kesalahan yang diperbuat. Ingat, prinsip hukuman adalah untuk mendidik, bukan menyakiti. Pilihlah bentuk sanksi atau hukuman yang mengurangi aktivitas yang disukainya, seperti mengurangi waktu main game, atau bermain sepeda.

31. Menyindir
Kadang kita sebagai orang tua kurang bisa menjaga ucapan kita kepada anak yang tidak kita sadari telah menyakiti hatinya. Seringkali karena jengkel atau marah kita mengucapkan kata-kata sindiran seperti, “Sering-sering aja pulang malam”. Atau, “Kok tumben jam segini sudah pulang”.
Kebiasaan ini tidak akan membuat anak kita menyadari akan perilaku buruknya tapi malah sebaliknya akan membuat ia semakin menjadi-jadi dan menjaga jarak dengan kita. Kita telah menyakiti hatinya dan membuatnya tidak ingin berkomunikasi dengan kita.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah mengungkapkan secara langsung apa yang kita inginkan dengan kalimat yang tidak menyinggung perasaan, memojokkan, bahkan menyakiti hatinya. Katakan saja, “Sayang, Mama khawatir akan keselamatan kamu lho kalo kamu pulang terlalu malam”.

32. Mengejek
Kita sebagai orang tua kadang suka menggoda anak kita hingga mereka merasa jengkel. Namun ketika si anak memohon agar kita tidak menggodanya lagi, kita justru makin menggodanya hingga dia makin kesal dan malu. Hal ini akan membangun ketidaksukaan anak pada kita dan yang sering terjadi anak tidak menghargai kita lagi karena ia menganggap kita juga seperti teman-temannya yang lain yang suka menggodanya.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah memilih materi bercanda yang tidak membuatnya malu atau yang merendahkan dirinya jika kita berniat menggodanya. Jagalah batas-batas dan hindari bercanda yang bisa membuat anak kesal apalagi malu. Lihat ekspresi anak kita, apakah kesal dan meminta kita segera menghentikannya? Bila ya, segeralah hentikan dan jika perlu meminta maaflah atas kejadian yang baru terjadi. Katakan bahwa kita tidak bermaksud merendahkannya dan kita berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

  
33. Memberi Julukan Yang Buruk
Kebiasaan memberikan julukan yang buruk pada anak bisa mengakibatkan rasa rendah diri, tidak percaya diri, kebencian, juga perlawanan.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah mengganti julukan yang buruk dengan yang baik, seperti, anak baik, anak hebat, anak pintar. Jika tidak bisa menemukannya cukup panggil dengan nama kesukaannya saja.

34. Mengumpan Saat Anak Rewel
Kita seringkali mengalihkan perhatian anak kita ke hal lain saat dia menangis, marah, atau merengek minta sesuatu. Misalnya, “Sayang, lihat ada badut lucu di sana”. Namun yang terjadi malah sebaliknya, rengekan anak semakin menjadi-jadi.
Ingatlah selalu, pada saat anak kita sedang fokus pada apa yang diinginkannya, ia akan memancing emosi kita dan emosinya sendiri akan menjadi sensitif. Anak kita pada umumnya adalah anak yang cerdas. Ia tidak ingin dialihkan ke hal lain jika masalah ini belum ada kata sepakat penyelesaiannya.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah menyelesaikan apa yang diinginkan oleh anak kita dengan membicarakannya dan membuat kesepakatan di tempat jika kita belum sempat membuat kesepakatan di rumah. Katakan secara langsung apa yang kita inginkan terhadap permintaan anak tesebut, seperti “Mama belum bisa membelikan mainan itu saat ini. Jika kamu mau, harus menabung lebih dahulu. Nanti Mama ajari cara menabung. Bila kamu terus merengek, kita tidak jadi jalan-jalan dan langsung pulang”. Jika kalimat ini yang kita katakan dan anak kita tetap merengek, segeralah pulang meski urusan belanja belum selesai. Untuk urusan belanja kita masih bisa menundanya, tapi jangan sekali-kali menunda dalam mendidik anak.

35. Mengajari Anak Untuk Membalas
Bila kita memiliki anak yang pendiam dan pemalu kadang tidak sabar bila melihat anak kita diganggu oleh teman-temannya. Kita bahkan berusaha memprovokasi anak kita, terutama bila anak kita laki-laki, untuk membalas bila disakiti. Hal ini secara tidak langsung mengajari anak untuk balas dendam. Sebab pada saat itu emosi anak sedang sensitif dan apa yang kita ajarkan saat itu akan membekas.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah mengajarkan anak untuk menghindari teman-teman yang suka menyakiti. Menyampaikan pada orang tua yang bersangkutan bahwa anak kita sering mendapat perlakuan buruk dari anaknya. Bekerja sama dengan pihak sekolah untuk menghindari kejadian tersebut terulang lagi.

36. Longgar Terhadap Tayangan Televisi
Di jaman yang serba maju ini televisi adalah media audio visual yang wajib ada di dalam rumah. Namun seperti yang kita ketahui, acara televisi banyak yang tidak sesuai bila ditonton anak-anak. Mulai dari pengaruh kekerasan, ketakutan, kata-kata yang tidak pantas, hingga hal-hal yang berbau pornografi.
Anak adalah makhluk kecil pintar yang mempunyai memori yang cukup tajam. Dia dapat meniru apa yang dia lihat atau dengar hanya dengan sekali atau dua kali dia lihat. Bila anak kita terbiasa melihat tayangan kekerasan di layar televisi, otaknya seperti dicuci setiap hari oleh tayangan tersebut. Akibatnya, anak menjadi lebih agresif dan kurang bisa mengontrol emosinya.
Yang sebaiknya kita lakukan adalah berkomunikasi dengan anak dan memberinya pengertian bahwa tidak semua yang dia lihat di televisi itu terjadi atau dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Ambillah waktu untuk melakukan kegiatan bersama anak di dalam rumah atau di luar rumah. Buat kesepakatan bersama tentang apa yang boleh ia tonton dan apa yang sama sekali tidak boleh ditonton. Gantilah program TV dengan film-film pengetahuan yang lebih mendidik dan menantang, mulai dari kartun hingga CD dalam bentuk permainan edukatif.

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sekilas Info - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger