Latest Post

8 Tokoh Besar Indonesia yang Tidak Punya Ijasah Perguruan Tinggi

Media sosial beberapa hari ini diramaikan oleh sosok Susi Pudjiastuti, yang dipercaya Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Kabinet Kerja.

Susi Pudjiastuti yang sebelumnya adalah Dirut Susi Air ini diketahui hanya mempunyai ijasah SMP. Beliau memang sempat melanjutkan sekolah ke bangku SMA namun hanya sampai kelas 2 SMA.

Masyarakat Indonesia yang masih menganggap label gelar pendidikan adalah sesuatu yang lebih penting dibandingkan kompetensi seseorang, berpandangan bahwa Susi Pudjiastuti tidak layak menduduki jabatan sekelas Menteri.

Namun yang perlu diingat adalah bahwa dalam sejarah perjalanan republik ini, ternyata ada banyak tokoh-tokoh penting bangsa yang yang tidak mengenyam pendidikan tinggi namun prestasinya bagi bangsa sudah tidak dapat di sangkal lagi.

Siapa sajakah mereka?

1. Haji Agus Salim
Satu dari Pahlawan Nasional Indonesia ini lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, 8 Oktober 1884. Agus Salim menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Sekolah HBS setingkat SMP+ SMA dengan lama studi 5 tahun. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda. Meskipun menguasai tujuh bahasa (Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki dan Jepang), Agus Salim harus mengubur niatnya untuk melanjutkan sekolah di kedokteran karena gagal mendapat beasiswa dari Belanda.

Meski hanya lulusan SMA, orang kedua di Sarekat Islam yang kerap dijuluki "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man) ini berperan besar dalam sejarah Indonesia. Karir politik Agus Salim antara lain:
  • Anggota Volksraad (1921-1924)
  • Anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945
  • Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947
  • Pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947
  • Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin 1947
  • Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949

2. Chairil Anwar
Siapa yang tidak kenal dengan pujangga sekelas Chairil Anwar? "Si Binatang Jalang" kelahiran Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 ini adalah penyair terkemuka Indonesia yang telah melahirkan sekitar 96 karya sastra, termasuk 70 puisi.

Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Ia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, ia tidak lagi bersekolah. Meskipun tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Ia juga mengisi hari-harinya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Penulis-penulis tersebut sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung terhadap tatanan kesusasteraan Indonesia. Karya-karya Chairil Anwar juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman, Rusia dan Spanyol.


3. Buya Hamka
Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia.

Buya Hamka lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908. Pendidikan formal yang ditempuhnya hanya sampai kelas dua Sekolah Dasar Maninjau. Setelah itu, saat usianya menginjak 10 tahun, Hamka lebih memilih untuk mendalami ilmu agama di Sumatera Thawalib di Padang Panjang, sekolah Islam yang didirikan ayahnya sekembalinya dari Makkah sekitar tahun 1906. Selama belajar di Thawalib, ia bukan termasuk anak yang pandai, bahkan ia sering tidak hadir beberapa hari karena merasa jenuh dan lebih mememilih berada di sebuah perpustakaan umum milik gurunya, Zainuddin Labay El Yunusy daripada dipusingkan dengan pelajaran-pelajaran yang harus dihafalnya di kelas.

Pada tahun 1959, Hamka mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar, Kairo atas jasa-jasanya dalam penyiaran agama Islam dengan menggunakan bahasa Melayu. Kemudian pada 6 Juni 1974, kembali ia memperoleh gelar kehormatan tersebut dari Universitas Nasional Malaysia pada bidang kesusasteraan, serta gelar Profesor dari Universitas Prof. Dr. Moestopo.

Dalam karir politik Buya Hamka pernah menjadi pimpinan pusat Muhammadyiah dalam Muktamar Muhammadiyah ke-32 di Purwokerto tahun 1953. Sejak saat itu, ia selalu terpilih dalam Muktamar Muhammadiyah selanjutnya, sampai pada tahun 1971 ia memohon agar tidak dipilih kembali karena merasa sudah tua. Akan tetapi, ia tetap diangkat sebagai penasihat pimpinan pusat Muhammadiyah sampai akhir hayatnya. Pada tahun 1977, Hamka dipilih sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia yang pertama.


4. H. Adam Malik Batubara
Salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, 22 Juli 1917 ini pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri (1966-1978), Ketua DPR/MPR (1977-1978), dan Wakil Presiden (1978-1983).

Adam Malik menempuh pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School Pematangsiantar. Lalu melanjutkan di Sekolah Agama Madrasah Sumatera Thawalib Parabek di Bukittinggi, namun hanya satu setengah tahun saja karena kemudian pulang kampung dan membantu orang tua berdagang.

Adam Malik adalah salah satu pendiri Kantor Berita Antara bersama Soemanang, A.M Sipahoetar, Armijn Pane, Abdul Hakim, dan Pandoe Kartawigoena pada 13 Desember 1937.

Di zaman penjajahan Jepang, Adam Malik juga aktif bergerilya dalam gerakan pemuda memperjuangkan kemerdekaan. Menjelang 17 Agustus 1945, bersama Soekarni, Chaerul Saleh, dan Wikana, ia pernah membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Demi mendukung kepemimpinan Soekarno-Hatta, ia juga menggerakkan rakyat berkumpul di lapangan Ikada, Jakarta.


5. Ajip Rosidi
Mungkin nama Ajip Rosidi terdengar asing di telinga kita, namun dia adalah salah satu sastrawan dan budayawan Indonesia, sekaligus Ketua Yayasan Kebubayaan Rancage.

Pria kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938 ini mulai menempuh pendidikannya di Sekolah Rakyat Jatiwangi (1950), lalu melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953), dan terakhir, Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956). Meski tidak tamat sekolah menengah, namun dia dipercaya mengajar sebagai dosen di banyak perguruan tinggi Indonesia.

Tahun 1967, Ajip Rosidi diangkat sebagai dosen luar biasa pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran di Bandung. Di samping itu sering memberikan kuliah umum di berbagai universitas di seluruh Indonesia. Seperti di Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Semarang), IKIP Negeri Bandung, IKIP Negeri Padang, Universitas Syah Kuala (Banda Aceh), IKIP Negeri Surabaya, dan lain-lain. Tahun 1981 dia diangkat sebagai Visiting Professor pada Osaka Gaikokugo Daigaku di Osaka, Jepang (sampai 2003). Tahun 1983-1994 menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Tenri Daigaku, di Tenri, Nara. Tahun 1983-1996 menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto. Pada 31 Januari 2011, ia menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.


6. Emha Ainun Najib
Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun ini lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953. Salah satu tokoh intelektual Islam ini pernah mengenyam bangku kuliah hingga semester satu di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Darussalam Gontor karena melakukan ‘demo’ melawan pimpinan pondok karena sistem pondok yang kurang baik pada pertengahan tahun ketiga studinya, kemudian pindah ke Yogyakarta dan tamat SMA Muhammadiyah I.

Dalam kesehariannya, Emha terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, dan sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensialitas masyarakat. Selain menulis buku, Cak Nun juga aktif berdakwah dengan berkeliling nusantara bersama grup musik Kiai Kanjeng yang dipimpinnya.

Bulan Maret 2011, Emha memperoleh Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, penghargaan diberikan berdasarkan pertimbangan bahwa si penerima memiliki jasa besar di bidang kebudayaan yang telah mampu melestarikan kebudayaan daerah atau nasional serta hasil karyanya berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.


7. Dahlan Iskan
Prof. Dr.(H.C.) Dahlan Iskan lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951. Mantan CEO Jawa Pos Group ini pernah menjabat sebagai Dirut PLN (23 Desember 2009 – 19 Oktober 2011) dan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (19 Oktober 2011 – 20 Oktober 2014).

Awal karirnya dimulai setamat SLTA. Dahlan melanjutkan studi di Fakultas Hukum IAIN Sunan Ampel dan Universitas 17 Agustus. Semasa kuliah Dahlan sibuk berorganisasi kemahasiswaan dan banyak menulis di media atau koran-koran. Akhirnya, karena saking sibuknya sampai-sampai dia tidak punya waktu untuk kuliah. Dahlan akhirnya meninggalkan bangku kuliah.

Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki 134 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta. Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.


8. Andy F Noya
Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 6 November 1960 ini adalah wartawan dan presenter televisi. Acaranya yang terkenal adalah talk show Kick Andy yang tayang di MetoTV. Andi F Noya berasal dari keluarga sederhana, ayahnya seorang tukang servis mesin ketik sedangkan ibunya seorang penjahit.

Begitu lulus SD Sang Timur di Malang, Jawa Timur, pemuda berdarah Ambon, Jawa, dan Belanda ini lantas melanjutkan sekolah di Sekolah Teknik Negeri Jayapura dan dilanjutkan ke Sekolah Teknik Mesin Negeri 6 Jakarta. Andy menjadi salah satu lulusan terbaik dari STM Negeri 6 Jakarta saat itu. Karena ketertarikan Andy dalam dunia tulis menulis sejak kecil, Andy kemudian melanjutkan sekolahnya di Program Diploma 3 Sekolah Tinggi Publisistik Jakarta. Namun sayang, ketika menginjak semester ketiga Andy memutuskan untuk berhenti kuliah dan menekuni karirnya sebagai wartawan di sejumlah media.

Andy F Noya pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi MetroTV dan Wakil Pemimpin Umum Media Indonesia.

Saat menjadi presenter acara Kick Andy, Andy F Noya berani membatalkan bintang tamu mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lantaran dirinya tidak mau diatur soal pertanyaan yang harus diajukan kepada bintang tamu.
 

Wanita Ini Tetap Awet Muda Meski Sudah 67 Tahun

Media sosial dibuat heboh dengan beredarnya foto dari Apasra Hongsakula, wanita asal Thailand yang pernah memenangkan mahkota Miss Universe tahun 1965. Apa yang bikin heboh?

Apasra Hongsakula tiba-tiba kembali muncul dihadapan publik setelah 49 tahun berlalu sejak dia menjadi wanita Thailand pertama yang memenangi gelar ratu sejagad ini. Usia Apasra Hongsakula saat ini 67 tahun.

Yang membuat heboh dari kemunculan kembali Apasra Hongsakula adalah wajahnya yang tetap terlihat cantik dan awet muda. Tidak terlihat perbedaan sama sekali antara wajah Apasra pada tahun 1965 lalu dengan saat ini.

Saat ini, Apasra sedang sibuk berbisnis jasa kecantikan yang salah satunya adalah Spa yang dinamainya Apasra's Spa.

Berikut foto-foto dari Apasra Hongsakula saat berusia 18 tahun dan saat ini:


 

Inilah 8 Menteri Wanita di Kabinet Kerja Jokowi-JK

Susunan Kabinet Kerja Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla telah dilantik pada Senin (27/10/2014) lalu di Istana Merdeka. Sebanyak 34 Menteri diambil sumpahnya, 8 diantaranya adalah wanita.

Siapa sajakah mereka?

1. Khofifah Indar Parawansa
Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama ini dipercaya sebagai Menteri Sosial. Bidang kerja ini sepertinya cocok bagi alumnus S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, Surabaya, dan S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Jakarta tersebut.
Politikus PKB kelahiran Surabaya, 19 Mei 1965 ini juga pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di era pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid.

2. Puan Maharani
Putri dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Di dalam Kabinet Kerja ini Puan Maharani adalah menteri yang paling muda dari segi usia. Wanita kelahiran Jakarta, 6 September 1973 ini juga merupakan menteri koordinator wanita pertama dalam sejarah pemerintahan Indonesia.

3. Retno Lestari Priansari Marsudi
Wanita kelahiran Semarang, 27 November 1962 ini adalah Menteri Luar Negeri wanita pertama di Indonesia. Sebelumnya beliau menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda di Den Haag.

4. Susi Pudjiastuti
Mungkin nama Menteri Kelautan dan Perikanan ini paling mengundang kontroversi akibat sikapnya yang terkesan cuek, merokok, dan mempunyai tato di kaki kanannya. Wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965 ini sebelumnya adalah Presdir sekaligus pemilik dari PT ASI Pudjiastuti Marine Product, eksportir hasil-hasil perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation yang menjadi operator penerbangan Susi Air.

5. Rini Mariani Soemarno Soewandi
Wanita Kelahiran Maryland, Amerika Serikat, 9 Juni 1958 ini dipercaya menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara, menggantikan posisi Dahlan Iskan. Pada era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, Rini pernah dipercaya sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada 2001-2004.

6. Nila Djuwita Moeloek
Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM (K) dipercaya duduk sebagai Menteri Kesehatan. Wanita kelahiran Jakarta, 11 April 1949 ini sempat disebut-sebut menjadi calon kuat Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II setelah mengikuti proses seleksi calon menteri pada 18 Oktober 2009 lalu. Namun ia malah ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Millennium Development Goals.

7. Yohana Yambise
Wanita asal Papua ini dipercaya memegang tugas sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Yohana Yambise lahir di Manokwari, 1 Oktober 1958. Dia adalah perempuan Papua pertama yang menjadi profesor dan guru besar di Kampus Universitas Cenderawasih Jayapura, yang dikukuhkan pada 14 November 2012.

8. Siti Nurbaya Bakar
Wanita kelahiran Jakarta, 28 Juli 1965 ini menduduki posisi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Kabinet Kerja. Menteri yang dipuji sebagai wanita pekerja keras oleh Presiden Jokowi ini adalah Ketua Dewan Perwakilan Pusat (DPP) Partai Nasdem. Pada tahun 2007, Siti Nurbaya pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 99 wanita paling berpengaruh di Indonesia oleh majalah Globe Asia.
 

Pelaku Bullying Jokowi Ditangkap Polisi

Muhammad Arsyad (23), warga warga Ciracas, Jakarta Timur, ditangkap oleh empat petugas Bareskrim berpakaian sipil pada Kamis (23/10/2014) dengan tuduhan mem-bully Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui Facebook.

Politikus PDIP yang sekaligus koordinator tim hukum Jokowi-JK, Henry Yosodiningrat, melaporkan MA ke pihak kepolisian karena perbuatan MA dinilai sangat menghina Presiden.

MA melakukan editing foto dengan tubuh model porno yang tengah bugil dalam berbagai adegan, sedangkan wajahnya diganti dengan wajah Presiden Jokowi dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Pelaku yang sehari-hari bekerja sebagai tukang tusuk sate ini dijerat pasal berlapis yaitu Pasal 310 dan 311 KUHP, Pasal 156 dan 157 KUHP, Pasal 27, 45, 32, 35, 36, 51 UU ITE.
 

Stephen Hawking: Surga Itu Cuma Dongeng

Bagi sebagian besar kita yang beragama pasti mempercayai adanya surga dan neraka setelah kematian. Tapi tidak dengan fisikawan dan ahli matematika, Stephen Hawking. Stephen berpendapat bahwa surga hanyalah isapan jempol alias dongeng belaka.

"Saya menganggap otak seperti komputer yang akan berhenti bekerja ketika komponennya rusak. Tidak ada kehidupan setelah mati ataupun surga bagi komputer rusak itu. Semua itu cuma dongeng bagi orang-orang yang takut akan kegelapan," demikian yang pernah dikatakan Stephen Hawking.

Pernyataan tersebut seolah mempertegas teori Stephen yang dituangkan dalam bukunya, The Grand Design, pada tahun 2010 yang menyebutkan bahwa penciptaan alam semesta dan eksistensinya tak perlu peran serta Tuhan.

"Karena adanya hukum seperti gravitasi, tata surya dapat dan akan membentuk dirinya sendiri. Penciptaan spontan adalah alasannya mengapa sekarang ada 'sesuatu' dan bukannya kehampaan, mengapa alam semesta ada dan kita ada. Tidak perlu memohon kepada Tuhan untuk memulai segalanya dan menggerakan alam semesta”, demikian tulis Stephen

Terang saja pendapat dari pengarang buku best seller, A Brief History of Time pada tahun 1988 ini menyulut kontroversi di kalangan para pemuka agama.

Stephen Hawking diketahui mengidap penyakit sklerosis lateral amiotrofik sejak usia 21 tahun. Dokter memprediksi hidupnya tak akan lama, tetapi ternyata ia masih bertahan hidup hingga di usianya yang telah menginjak 72 tahun ini.
 

Tessy Srimulat Diciduk Polisi Akibat Narkoba

Pelawak senior Kabul Basuki atau yang lebih dikenal dengan Tessy Srimulat diciduk Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Mabes Polri aibat kedapatan menggunakan narkoba.

Tessy ditangkap pada Kamis (23/10/2014) malam sekitar pukul 22.00 WIB di Kampung Rawa Bugel No 1 Kelurahan Marga Mulya, Kecamatan Bekasi Utara, Bekasi, Jawa Barat.

Pemain film Finding srimulat ini ditangkap bersama dua rekannya. Sampai kini belum diketahui narkoba jenis apa yang dikonsumsi Tessy saat itu.

Saat ini Tessy sedang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Dengan tertangkapnya Tessy, sudah empat pelawak srimulat yang berurusan dengan polisi akibat narkoba. Sebelumnya ada Doyok, Polo, dan Gogon.


 

Susi Pudjiastuti, Menteri Nyentrik Yang Punya Tato, Perokok, dan Tidak Lulus SMA

Ada yang menarik dari susunan menteri Kabinet Kerja Jokowi, yaitu terpilihnya Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Salah satu dari delapan menteri wanita dalam Kabinet Kerja ini kabarnya memiliki tato, perokok, dan tidak lulus SMA.

Siapa sebenarnya Susi Pudjiastuti ini?

Tidak banyak yang mengetahui sosok dari Susi Pudjiastuti, namun prestasi dari wanita kelahiran Pangandaran 15 Januari 1965 ini cukup membuat kita tercengang.

Susi Pudjiastuti adalah Presdir sekaligus pemilik dari PT ASI Pudjiastuti Marine Product, eksportir hasil-hasil perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation yang menjadi operator penerbangan Susi Air.

Susi Pudjiastuti dilahirkan dari pasangan Haji Ahmad Karlan dan Hajjah Suwuh Lasminah yang merupakan penerus dari “dinasti” saudagar sapi dan kerbau dari Jawa Tengah yang membawa ratusan ternak dari Jawa Tengah untuk diperdagangkan di Jawa Barat. Bahkan kakek buyutnya yang dikenal dengan nama Haji Ireng dikenal sebagai tuan tanah.

Setamat SMP, Susi sempat melanjutkan pendidikan ke SMA. Namun, di kelas II SMAN Yogyakarta dia berhenti sekolah karena dikeluarkan dari sekolah lantaran keaktifannya dalam gerakan Golput.

Setelah tidak lagi bersekolah, dengan modal Rp750 ribu hasil menjual perhiasan, pada 1983 Susi mengawali profesinya sebagai pengepul ikan.

Usahanya terus berkembang. Tidak puas hanya berbisnis ikan laut di satu daerah, Susi mulai melirik daerah Pangandaran di pantai selatan Jawa Barat. Ternyata di sana keberuntungan Susi mulai datang. Usaha perikanannya maju pesat. Jika semula dia hanya memperdagangkan ikan dan udang, maka Susi mulai memasarkan komoditas yang lebih berorientasi ekspor, yaitu lobster.

Saat memulai bisnis lobsternya, Susi harus membawa dagangannya sendiri ke Jakarta untuk ditawarkan ke berbagai restoran seafood dan diekspor. Ternyata pasar ekspor lobster masih membentang luas. Karena besarnya permintaan luar negeri untuk menyediakan stok lobster, Susi pun harus berkeliling Indonesia untuk mencari sumber suplai lobster.

Pada 1996, Susi mendirikan pabrik pengolahan ikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product dengan produk unggulan berupa lobster dengan merek "Susi Brand".

Setelah usahanya mulai berkembang pesat hingga mencapai Asia dan Amerika, timbul masalah baru yaitu transportasi. Stok lobster yang mulai melimpah membutuhkan transportasi yang cepat agar lobster tidak terancam busuk atau menurun kualitasnya, sedangkan sarana transportasi udara untuk mengirim hasil laut masih kurang. Susi membutuhkan transportasi udara yang dapat dengan cepat mengangkut lobster, ikan, dan hasil laut lain kepada pembeli dalam keadaan masih segar.

Dengan dukungan suami, Christian von Strombeck, yang adalah pilot dan mekanik pesawat berkewarganegaraan Jerman di Indonesia, pada 2004 Susi memutuskan membeli sebuah Cessna Caravan seharga Rp20 Miliar menggunakan pinjaman bank. Dengan pesawat ini Susi dapat mengangkut lobster dan hasil laut lainnya langsung kepada pembeli dengan cepat.

Dua hari setelah gempa tektonik dan tsunami melanda Aceh dan pantai barat Sumatera pada 26 Desember 2004, Cessna milik Susi menjadi pesawat pertama yang berhasil mencapai lokasi bencana untuk mendistribusikan bantuan kepada para korban yang berada di daerah terisolasi. Peristiwa itu pun mengubah arah bisnis Susi.

Pesawat Susi Air yang semula digunakan untuk mengangkut hasil laut kini disewakan juga untuk pesawat penumpang. Selama tiga tahun berjalan, maka perusahaan penerbangan ini semakin berkembang hingga memiliki 14 pesawat, ada 4 di Papua, 4 pesawat di Balikpapan, Jawa dan Sumatera. Perusahaannya memiliki 10 pesawat Cessna Grand Caravan, 2 pesawat Pilatus Porter, 1 pesawat Diamond star dan 1 buah pesawat Diamond Twin star.

Kini Susi Air memiliki 50 pesawat terbang dari berbagai jenis dengan mempekerjakan 180 pilot, 175 di antaranya merupakan pilot asing. Tahun 2012 Susi Air menerima pendapatan Rp 300 miliar dan telah melayani 200 penerbangan perintis.

Pada tahun 2008, ia mengembangkan bisnis aviasinya dengan membuka sekolah pilot Susi Flying School melalui PT ASI Pudjiastuti Flying School.

Susi Pudjiastuti yang kini dipercaya oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan juga pernah memperoleh berbagai macam penghargaan. Antara lain, Pelopor Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat tahun 2004, Young Entrepreneur of The Year dari Ernst and Young Indonesia tahun 2005, serta Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden Republik Indonesia. Tahun 2006, ia menerima Metro TV Award for Economics, Inspiring Woman 2005 dan Eagle Award 2006 dari Metro TV, Indonesia Berprestasi Award dari PT Exelcomindo dan Sofyan Ilyas Award dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2009.


Disamping berbagai macam prestasi yang membanggakan di atas, Susi juga mendapat cibiran miring dari masyarakat yang melihat penampilan cuek dari menteri yang satu ini. Selain tidak lulus bangku sekolah SMA, Susi juga dikenal gemar sekali merokok. Bahkan dengan santainya ia sempat merokok di kompleks Istana saat acara perkenalan Menteri pada Minggu (26/10/2014) kemaren.

Selain itu, Menteri yang sangat nyentrik ini juga diketahui memiliki tato di kaki kanannya.


 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sekilas Info - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger